Selasa, 29 Maret 2011

nietzche

NIETZSCHE
1. Riwayat Hidup Nietzsche
       15 Oktober 1844 Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir sebagai anak ketigadari pasangan pendeta protestan Karl Ludwing Nietzsche dan Franziska di desa Rocken dekat kota kecil Lutzendi Saksoniabagian timur Jerman.
       Pada usia Nietzsche yang kelima tepatnya pada tahun 1849 ayahnya meninggal dunia karena penyakit otak. Kemudian ia bersama keluarganya pindah ke kota Hamburg (Saksonia) 1850, dan disana ia mulai bersekolah. Karena didikannya diperoleh dari ibunya yang solehah maka wataknya kegadis-gadisan, yang tidak suka kepada teman-teman sebayanya yan memiliki sikap-sikap aneh dan merugikan menurutnya. Di sekolah ia sering dijuluki pendeta cilik oleh teman-temannya.
       Pada tahun 1864, Nietzsche menamatkan sekolah menengahnya di SchulPforta dengan hasil yang cukup gemilan, dan melanjutkan kuliah pada bulan Oktober dan mengambul kulia Teologi dan Filologi kelasik (Sastra Yunani dan Romawi) di Universitas Bonn.
       Ketika berkunjung ke ibunya pada tahun 1865 di Hamburg, terjadi pertengkaran dengan ibunya, karena ia menolak mengikuti perjamuan Kudus di gereja. Karena ia tahu, lagi merasa tidak terkait oleh agama Nasroni lagi, mungkin karena terdoktrin oleh salah satu buku yang dikarang oleh Schopenhauker yang berjudul Die Welt Als Wille and Vorstellung yang ia temukan di tukang loak, di tempat ia kuliah. Kemudian pada tahun yang sama ia pindah ke Universitas Leipzig untuk meneruskan kuliahnya di bidang Filologi, mungkin karena kurang dekatnya dia dengan teman-temannya di Universitas sebelumnya. Behkan di Universitasnya dulu dia dianggap aneh dan nyentrik.
       Keasyikan setudinya terputus ketika pada tahun 1867 di diminta untuk mengikuti wajib militer di bagian Artileri di Namburg. Kurang lebih selama satu tahun dia mengikuti hal tersebut, pada tahun 1868 ia terjatuh dari kuda dan terluka parah, ia kembali ke Universitas dan melanjutkan studinya lagi. Pada masa inilah dia berkenalan dengan music Richard Wagner, bahkan mereka menjadi sahabat akrab.
       Sekitar tahun 1869 dia diminta oleh Ritschl menjadi Dosen di Universitas Basel di Swiss, walau sebenarnya dia baru berumur 25 tahun dan belum menyandang gelar Doktor.
       Antara tahun 1873-1876 Nietzsche menulis 4 buah esai dngan satu judul umum Unzeitgemasse Betrach Tangen (kontemplasi-kontemplasi tak aktual). Dan pada 1876 Nietzsche menerbitkan esai yang ke empatnya yang berjudul Richard Wagner in Bayrenth,  dan setelah waktu itu hubungannya dengan Wagner pecah. Ia merasa kecewa karena merasa diperalat dan ditipu oleh Wagner untuk menyebarkan Wagnerisme.
       Setelah patah arang dengan Wagner, mulailah tahap kedua dari riwayat Intelektualnya. Pada tahap ini dia kurang meminati seni dan lebih meminati filsafat. Periode kedua ini sering disebut periode positivistis walau sebutan ini tidak disetujui oleh semua sejarahwan. Adapun karya yang menandai periode ini adalah Menschiliches Allzumenschlishes (manusia, terlalu manusia) 1878-1879.
Dan periode ketiga adalah suatu periode ketika Nietzsche dapat menemukan kemandiriannya dalam berfilsafat. Pada periode ini juga kesehatannya mulai menurun dan mulai sakit-sakitan. Dia mulai melakukan perjalanan untuk meringankan beban penyakit yang ia derita, walau dalam keadaan seperti itu ia dapat melahirkan karya-karya yang luar biasa seperti:  Also Sprach Zarathustra (Demikianlah sabda Zarathustra), Der Anti Christ (Sang anti Kristus), Ecce Homo (itulah manusia). Dau buku terakhir bukan di hanya diciptakan untuk sanjungan diri, akan tetapi di ciptakan juga untuk membentur dan menghancurkan Moralitas dan agama Kristen yang telah menghisap darah manusia yang hidup.
Karena ketegangan semangat yang menggebu-gebu untuk menjunjung dirinya, dan semangat mental yang hebat khirnya pada januari 1889, pada waktu itu ia sempat menulis surat-surt ganjil kepada teman-temannya misalnya: dia mengaku sebagai Ferdinand De lesseps atau sbagai yang tersalib, bahkan dia mengaku sebagai Allah sendiri. Meskipun demikian dia masih tetap mampu mengapresiasikan karya seni dan music.
Saudaranya Elizabeth dengan setia merawatnya sampai dia meninggal dunia di Waimer pada 25 Agustus 1900 karena penyakit pneumonia.
2 Alam Pikiran Nietzsche
       Sejauh mana Nietzsche mengagumi Spencer dan Darwin tidaklah dapat di tegaskan. Akan tetapi, rumusan Surrival of the fettest  ternyata sagat mempengaruhi pikirannya mengenai manusia dan kemanusiaan.
       Nietzsche menganggap bahwa kalau dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebijakan utama dalam kehidupan dalah kekuatan, oleh karena itu apa yang dianggap baik atau dinyatakan sebagai kebajikan haruslah kuat. Sebaliknya segala yang lemah adalah buruk dan salah. Nietzsche merupakan contoh yang nyata dari filsafat yang menyatakan logika kekuatan dan bukan kekuatan logika. Dalil ini baginya harus berlaku baik dalam pergaulan antar manusia maupun pergaulan antar bangsa.
Nietzsche sangat mengagumi ucapan Bismarck “Tak ada alturisme dalam pergaulan antar bangsa.” Masalah-masalah yang timbul dalam pergaulan antar bangsa bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara atau retorika, melainkan dengan darah dan baja.
       Menurut Nietzsche, pikiran-pikiran kesamaan derajat antar manusia ataupun antar bangsa adalah suatu hal yang mustahil dan bertentangan dengan kodrat alam. Dalam pergaulan antara manusia yang harus ditimbulkan adalah manusia-manusia unggul seperti Ubermansch atau superman. Yaitu mereka yang oleh kekuatannya bias mengatasi kumpulan manusia dalam masa.
       Yang harus dijadikan tujuan dalam kehidupan kemanusiaan ialah bagaimana menjelmaan manusia-manusia besar yang lebih kuat, lebih cerdas dan lebih berani. Nietzsche manusia unggul hanya ditimbulkan oleh gabunga yang harmonis antara tiga hal kekuatan, kecerdasan dan kebanggaan. Mengapa demikian, karena sejarah kemanusiaan di dunia telah mencatatdan menjadi bukti bahwa masyarakat selalu terdiri dari pemimpin dan yang dipimpin, hanya pemimpin yang kuat, cerda dan bangga bias diandalkan oleh masyarakat. Peimpin yang demikian itu akan berani membawa pengikitnya dalam peperagan dan membuat pengikutnya juga kuat, cerdas dan bangga. Akan tetapi masyarakat yang kehilangan keberaniannya untuk berperang, serta tekad untuk menaklukan lawannya adalah masyarakat yang nyata-nyata matang untuk Demokrasi.
       Menurut Nietzsche , Demokrasi adalah suatu gejala yang menunjukan bahwa suatu masyarakat sudah menjadi busuk sehingga tidak mampu lagi melahirkan pemimpin-pemimpin yang agung. Demokrasi adalah pemerintahan kaum dagang. Semata-mata Demokrasi adalah suatu mina belaka, tanpa setiap orang sempat bersaing sambil berteriak sama rata, sama rasa, padahal manusia bersaing justru karenamereka berbeda-beda. Demokrasi menentang kenyata bahwa kodrat alam  adalah diferensiasi.
       Orang-orang sering menghubungkan Nietzsche dengan bangkitnya Naziisme di Jerman. Bahwa sanya ada koinsidensi (keserentakan) antara pikiran-pikiran Nietzsche dengan Naziisme, akan tetapi pernyataan ini masih patut untuk diragukan akan pertanggungjawabannya Nietzsche terhadap timbulnya ideology sebagiamana dianut oleh Jerman Naji dimasa Adilt Hitler.
       Kala kita telaah karya Hitler, mein kampf, tidak mustahil orang menduga bahwa Hitler telah mendapatkan sebagian inspirasinya dari karya-karya Nietzsche . bahkan pada Benito Mussolini  kita bisa menemukan kembali adanya kedekaan dengan Nietzsche . fasisme sebagai suatu program aksi mengagungkan selogan “I’amour de resque” (Cinta pada resiko) yang ditelaah maka selogan ini tidak jauh berbeda maknanya dengan selogan Nietzsche “Hidup menatap bahaya”.
“Semboyanku adalah Amarati:…. Tidak saja tabah menanggung segala keherusan (penderitaan) melainkan juga mencintainya.
Hiduplah menantang bahaya…. Bangun kota-kotamu di kaki Vesuvius, kirim kapal-kapalmu ke lautlan yang belum dijelajahi, iduplah dalam keadaan perang”[1].
Dendang Zarathustra
       Kita tidak bisa mengenal Nietzsche tanpa mengenal karya terbesarnya, yaitu: demikianlah sabda Zarathustra. Bahkan karyanya ini dianggap oleh pengarangnya sendiri sebagai karya terunggul dari karya-karyanya yang lain.
“Karya-karya ini adalah tunggal, janganlah ia disebut senaoas lepas, dari para pengair. Mungkin tidak karya yang pernah dihasilkan dengan kekuatan yang sedemikian melimpah-ruah. Biarpun seseorang menghimpun semangat dan kebijakan semua jiwa yang besar, tak akan mempu himpunan itu menciptakan suatu percakapan Zarathustra.”
       Zarathustra meliputi bermacam-macam peristiwa, gejala manusia dan kemanusiaan. Karyanya ini ditulis oleh Nietzsche dalam pengasingannya di puncak pegunungan Alp, suatu daera yang terletak di Sils Maria. Zarathustra terdiri dari empat jilid da tiga bagian itu diselesaikan sdalam waktu 30 hari. Dan bagian keempatnya di terbitkan pada tahun 1892 dalam keadaan sakit jiwa.  
       Dalam Zarathustra kita akan mendapatkan semacam monologi, yaitu suatu percakapan antara Nietzsche dengan dirinya sendiri. Didalam Zarathustra itu, Nietzsche mulai dengan prolog sebagai berikut:
“Ketika tigapuluhtahun usianya, Zarathustra meninggalkan rumah serta danau dekat rumahnya, dan berangkatlah ia mendaki pegunungan. Disinilah ia menikmati gairah jiwanya, serta kesunyian dirinya, dan selama sepuluh tahun tak pernah ia jemu karenanya. Namun akhirnya, terjadi perubahan dalam hatinya dan pada suatu pagi ia bangaun bersama fajar, melangkan menatap surya, lalu  berketalah ia kepadanya: “Wahai kartika” besar, apa yang mungkin jadi kebahagiaan kalau tidak mereka yang menikmati cahayamu”
Tuhan telah mati
Didalam Zarathustra ini telah hadir berbagai macam kejadian yang dihasilkan oleh pemikiran Nietzsche, seperti telah matinya tuhan.
Aku ajarkan kepadamu manusia unggul, dahulu dosa yang terbesar adalah dosa melawan tuhan. Tetapi, tuhan sudah mati, dan bersama dia matilah pula mereka yang berdosa itu”
“Sudah tiba waktunya bagi manusia untuk menentukan tujuan baginya sendir. Sudah tiba saatnya bagi manusia untuk menanam bibit haapannya yang sesungguh-sunguhnya”
Mereka tidak sirna di waktu senja, meski pun baginya kebohongan yang diceritakan. Sebenarnya pada suatu hari mereka saling menertawakan diri sampai mati, hal ini terjadi karena ketika kata-kata yang paling tek berketuhanan diumumkan oleh salah satu diantara tuhan-tuhan, katanya: “Tuhan adalah esa, jangan kalian persekutukan aku dengan tuhan-tuhan lain”, demikian lah, maka tuhan yang sudah tua dan berjanggut muram yang iri hati, menjadi lupadiri. Kemudian semua tuhan yang lain pun tertawa dan melonjat-lonjat diatas kursinya sambil berteriak; “Bukankah justru lebih bertuhan untuk menyatakan bahwa ada banyak tuhan padahal tidak ada tuhan”
       Demikianlah jalan pikiran Nietzsche mengenai matinya paratuhan, dengan matinya tuhan, maka nista pula apa yang disebut dosa. Nietzsche muak dengan para pendeta yang mengejarkan bahwa manusia adalah makhluk yang berdosa. Padahal sebenarnya mereka ini (pendeta) orang-orang yang sangat menderita dalam hidupnya.
“….banyak diantara mereka menderita, maka mereka pun menginginkan orang lain menderita…”
“…mereka adalah tawanan-tawanan, orang-orang yang sudah dicap, ia yang disebut penebus telah menempatkan mereka dalam belenggu-belengu yang membelenggunya dengan nilai-nilai palsu serta kata-kata yang menyekikan”
“Waspadalah terhadap gubuk” yang dibangun oleh para pendeta itu ! gua-gua yang berbau harum itu mereka namakan gereja. Oh, itu cahaya yang dipalsukan !, itu udara yang menyesatkan ! didalamnya jiwa tidak di haramkan untuk melayang kesegala ketinggian. Sebab agamanya memerintahkan ‘merangkaklah diatas tingga ini pda lututmu hai kaum pendusta.’”
Perdamaian atau keunggulan atas keberanian.
Dalam percakapannya tentang perperangan dan perajurit, tegas bahwa yang deianggap kebajikan oleh Nietzsche adalah keberanian.
       “apa yang baik? “kalau bertanya,” berani itulah yang baik.”
Nietzsche menginginkan adanya tantangan-tantangan yang terus menerus hidup tidak boleh beku, kepada para perajurit ia berpesan:
“Kau harus cinta perdamaian, sebagai alat untuk peperangan”. Baru dan masa damai yang sangat lebih (baik) ketimbang yang panjang. Kepadamu tidak kuanjurkan kerja, melainkan perjuangan. kepadamu tidak kuanjurkan perdamaian, melainkan kemenangan! Orang bisa tak bersuara dan duduk diam saja kalau ia memiliki busur dan panah, kalau tidak mereka niscahya membuat dan cek-sok saja”
       Rupa-rupanya pemikiran ini telah memberikan ilham pada Hitler yang berpendapat bahwa suatu wilayah tidak ditakdirkan oleh Tuhan untuk didiami dan menjadi milik suatu bangsa. Tanah dan wilayah adalah hak bagi yang mampu untuk merebut, memiliki dan menguasainya.
Matilah pada waktunya
       Bagi Nietzsche, kecintaan terhadap hidup tidak perlu berarti ketakutan terhadap maut. Bukankah semua orang akan mati?
       “Banyak orang mati terlambat dan sedikit saja yang mati terlalu pagi”
“Kematianku pujianku, maut yang bebas dan datang padaku oleh karena aku yang menghendakinya, mampu bergekata “Tidak” dengan ikhlas bilamana saat untuk berkata “Ya” telah lewat…”
 Kenalilah dirimu
Dalam sabda Zarathustra seolah-olah tersimpul kembali suatu ajaran zaman yunani kuno yang berbunyi “kenali dirimu
“Manusia harus mau dan mampu menjadi saksi bagi dirinya sendiri dan atas dasar itu ia akan  mampu pula menundukan dirinya pada tempat yang sesuai”
“jangan menghendaki sesuatu yang melebihi kemampuanmu; melakukan sesuatu yang melebihi kemampuanmu sendiri mengandung ciri kepalsuan yang menjijikan”
Moralitas budaya yang hina
          Nietzsche menyatakan kemuakannya terhadap orang-orang yang mengharap dan menuntut belas kasihan. Mereka ini adalah pengejawantahan manusia lemah dan hina. Mereka adalah orang-orang yang menikmati penderitaannya, bukan karena sanggup menanggung derita. Melainkan karena dengan penderitaannya itu  meraka bisa mengharap belas kasihan orang lain. Oleh karena itu mereka sesungguhnya tidak menderita dalam arti yang sebenarnya, mereka hanya ingin disaksikan dalam penderitaan sehingga menganggap patut untuk dikasihan.
“Sesungguhnya, aku tak suka pada mereka orang-orang pengasih yang merasa bahagia dalam kasihannya, mereka ini sangat kurang rasa malu.”
“Menjengkelkan untuk memberi mereka sesuatu tetapi menjengkelkan juga untuk tidak memberi mereka apa-apa”
          Mereka ini orang yang sudah kehilangan rasa bengga dan hormat, mereka ini lebih pantas hidup dengan moralitas budak. Dan mereka sudah mati sebelum maut menghampiri mereka. Manamungkin mereka diseerajatkan dengan orang yang sanggup menjulangkan diri-diri kesegala ketinggian, dengan gairah untuk menjadi lebih unggul dan lebih agung? Mana mungkin mereka disamakan dengan manusia agung yang sanggup menanggung derita serta memeluk kesepian dalam keunggulannya?
“ sebab bagiku beginilah bunyi keadilan: ‘manusia tidaklah sama, tidak pla mereka akan menjadi sama’.”
3 PENGARUH PEMIKIRAN NIETZSCHE
          “Tuhan telah mati” pemikirn Nietzsche, nyata dan memiliki tekad untuk membangun sebuah moralitas baru dan untuk itu ia tidak kehawatir untuk mengenal hambatan-hambatan, bahkan ia menerjang semua yang telah ditegakan oleh orang-orang sebelumnya. Ia membongkar gereja dan ajaran-ajarannya. Tanpa rasa canggung, bahkan dalam sejarah antara teisme belum pernah ada seorang filsuf yang sedemikian ganasnya mematikan tuhan.
          Moralitas yang hendak dibangun olehnya adalah moralitas kejantanan yang unggul tanpa gemetar sedikitpun. Nietzsche mengumumkan bahwa tuhan telah mati dan menyiarkan ajaranya bahwa manusia dapat menjulangkan dirinya menjadi uberman, supermen dll.
“… seorang pun yang hendak menjadi creator dalam kebaikan dan keburukan, sesungguhnya, ia lebih dahulu harus menjadi pemusnah dan pendobrak segala nilai
          Seorang pencipta harus berani menyatakan apa yang benar menurutnya, adakalanya kebenaran pahit untuk dinyatakan, akan tetapi kebenaran harus diungkapkan sebab kebenaran tidak bisa dipendam dan di sembnyikan tanpa berbalik manjadi racun yang membinasahkan. Orang yang bijaksana niscahya tidak akan menyembunyikan kebenaran.
“diam adalah lebih buruk’ semua kebenaran yang disembunyikan akan menjadi racun”
4 Karya-Karya Nietzsche                                                                                                  
Adapun karya-karyanya yang terkenal dan banyak mempengaruhi manusia adalah:
a. Unzeitgemasze betrachtungen (1873-1876)
b. Menschiliches Allzumenschlishes (1878-1879)
c. Frohliche wissenscheft (1882)
d. Also Sprach Zarathustra (1883-1891)
e. Der Anti Christ  (tanpa tahun)
f. Ecce Homo(tanpa tahun)
g. Jenseit Von But Und Bose (1868)
h. Zur Genealogie Dear Moral (1887)
i. Will Zur Macht (tidak di selesaikan)



[1] Also Sprach Zarathustra

[2]Hasan, Puad. 1992. Berkenalan Dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya
[3]Surjono, Agus R. Damshauser Berthold. 2010. Nietzsche Syahwat Keabadian. Bandung: Komodo Book.
[4]Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana
[5]Hadi Wijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Yogyakarta: Kanisius
[6]Hardiman Budi F. 2007. Filsafat Moderen. Jakarta: Gramedia
[7]Madhofir, Ali. 2001. Kamus Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[8]Yacub L, Lyasofyan. Al-Barry M. Dahlan. 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah. Surabaya:Trget Press Surabaya.

Senin, 28 Maret 2011

MENGAPA HARUS ADA UANG ?



Dulu kami hidup dalam keadaan berkecukupan, serba dipenuhi oleh segala hal yang kami inginkan, walau memang disadari hal tersebut kurang berharga atau tidak terlalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan kami dipenuhi oleh barang-barang yang sangat unik mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang termurah sampai yang termahal menurut kami. Keinginan kami pun selalu dipenuhi oleh hasrat ketidak puasan pada diri kami, entah mulai dari keperluansekunder, tersier apa lagi primer tentu itu pasti dibutuhkan oleh kami, bahkan di tumpuk oleh kami.
Jika dikaji menurut pengetahuan saya, pada waktu itu tepatnya kami tidak jauh berbeda dengan orang-orang hedonis. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham inilah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan, bahwa:
"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati".[1]
atau setidaknya seperti orang materialis, Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.[2]
Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti : roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.[3]
 Akan tetapi kami tidak terlalu seperti yang paparkan diatas, pemaparan diatas hanya sebagian definisi yang di kutif dari beberapa sumber, kami hanya hampir menyeripau tetapi sangat jauh. Penyamaan yang kami maksud hanyalah sebatas kepada sifat yang normal, normal yang dimaksud hanya perilaku yang didasari tanpa merujuk kepada keyakinan sepertai apa yang dipaparkan tadi. Seperti sifat penganut hedonis atau meterialis yang ortodok.
Kesadaran kami mulai muncul ketika keterpurukan mulai melanda kehidupan kami. Pada waktu itu keterasingan terasa ketika salah seorang keluarga kami terjatuh dan meninggalkan ala mini untuk selamanya. Hal ini membuat segala yan ada pada diri kami, mulai dari kebahagiaan, kekayaan, kecukupan dan segalanya menghilang untuk beberapa saat atau mungkin untuk selamanya, tetapi semoga hal ini tidak terjadi.
Setelah beberapa waktu kami menjalani hidup, keadaan pun mulai berubah, kekuatan kami mulai terusuk, kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan yang diberikan dari materi pertama yang sangant penting, yaitu uang. Setelah kami mengalami keterjatuhan kami mulai merasakan akan suatu kebutuhan yang sangat penting sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan suatu langkah yan memang sangat sulit untuk dilalui. Kesulitannya bukan karena kami tidak bias, akan tetapi karena tidak pernahnya kami melakukan hal ini (mencari uang). Kami mulai melakukanya dengan berbagai cara, mulai dari berjualan, berbisnis, kuli dan lainnya.
Rasa yang aneh mulai terasa dalam benak diri kami, mengapa kami butuh dengan uang, dan mengapa hidup harus dengan uang. Akhirnya rasa ini membawa kami kepada pengetahuan tentang segalahal tentang ini. Ternyata uuang tidak serta merta ada dengan sendirinya melainkan melalui sejarah panjang yang bertahap tahap. Awal mula sebelum adanya uang oaring orang menggunakan system barter. Apa itu system barter?
Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, maka  mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Itu lah yang disebut dengan system 'barter'.
Namun kemudian, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah, kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
Untuk mengatasi persoalan diatas, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah, sebagai berikut:
a.        benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted)
b.       benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik)
c.       benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah.
d.      Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain sebagai berikut:
a.       karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang sulit untuk diberikan
b.      penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.
Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas
Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar.
Setelah kami dapat memahami sejarah uang itu sendiri akhirnya, rasa penasaran pun sedikit demi sedikit dapat terpenuhi. Akan tetapi usaha demi usaha tetap kami lakukan untuk mendapatkan uang itu, hal ini dilakukan karenan memang jaman sudah sangat mata duitan, karena hamir segala aktivitas di dunia ini dipenuhi dengan uang, uang tidak saja dipergunakan untuk membeli barang-barang perimer yang memang kebutuhannya sangant dibutuhkan, akan tetapin untuk membuang barang bekas primer itu sendiri pun memerlukan uang, seperti: kencing mandi dan lainnya. Atau untuk jelasnya untuk makan (kegiatran memasukan makanan kedalam organ guna memberikan energi bagi tubuh kita) ternyata mengeluarkannya pun memerlukan makan, walau untuk membayar tempatnya.
Hal diatas mungkin terjadi karena memang manusia memerlukan uang untuk makan, memang tidak ada kegiatan atau aktivitas lain yang dapat dilakukan selain melakukan hal ini (jaga toilet umum) . atau memang suatu kegiatan rutin yang memang sudah menjadi bisnis mereka. Mungkin juga mereka sudah nebdirikan banyak cabang di kota-kota lain.
            Kini uang sudah menjadi sumberkehidupan, atau bahkan sudah menjadi nyawa bagi sebagian orang. Tidak jarang orang berpikiran, bahwa mereka tidak akan dapat hidup tanpa uang. Mereka telah menjadikan uang sebagai sumber pokok kehidupan. Padahal hal ini sudah melencenga jauh dari inti terciptanya uang ini.
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.
a.        Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.
Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
Uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

b.      Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.
Dewasa ini para manusia telah menjadikan uang sebagai tuhan mereka sendiri, mungki benar kata Nietzsche bahwa tuhan telah mati, kematiannya mungkin karena manusia telah melupakannya, sehingga tuhan menangis dan akhirnya meninggalkan manuisia dan akhirnya mati.
Tuhan yang dimaksud disini melainkan suatu perbudakan, yang mana tuhan sebagai majikan dan manusia sebagai budaknya, atau dapat disimpulkan bahwa manusia telah menjadikan dirimereka sebagi budak uang itu sendiri.
Sebagaimana pemaparan di bawah ini:
"Tuhan sudah mati" (bahasa Jerman: "Gott ist tot") adalah sebuah ungkapan yang banyak dikutip dari Friedrich Nietzsche. Ungkapan ini pertama kali muncul dalam Die fröhliche Wissenschaft, seksi 108 (New Struggles), dalam seksi 125 (The Madman), dan untuk ketiga kalinya dalam seksi 343 (The Meaning of our Cheerfulness). Juga muncul dalam buku klasik Nietzsche Also sprach Zarathustra, yang paling bertanggung jawab dalam memopulerkan ungkapan ini. Gagasan ini dinyatakan oleh 'The Madman' sebagai berikut:
“ Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?”
Begitulah ungkapin nitzsche dalam berbagai karyanya. Yang mengatakan tuhan telah mati. Hal ini telah mengibaratkan akan suatu pemikiran yang amat luar biasa dari kebodohan manusia, yang rela untuk menukar tuhannya dengan benda-benda mati seperti uang, Hp, makanan dan lainnya.
Kiota ambil suatu contoh yang terjadi di negerikita, yaitu masalah korupsi. Definisi korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Mungkin mereka ini tidak malu atau memang tidak memiliki kemaluan, sehingga mereka berani untuk menyianyiakan amanat mereka. Amanat yang dimaksud merupakan suatu kepercayaan yang diberikan para masyarakat kepada mereka. Bahkan masyarakat berani dan mau untuk menggaji mereka dengan uang mereka sendiri yang dihasilkan dengan usaha mereka sendiri. Tetapi mengapa mereka masih melakukan hal tersebut.
Sebenarnya rasa ketidak puasan tersebut merupakan kewajaran yang memang dimiliki oleh semua manuia atau sebaliknya. Mereka tidak wajar atau mereka sakit sehingga buta, tuli dan busuk hatinya, sehingga tidak dapat melihat mendengar dan merasakan jeritan orang-orang yang sedang mengeruk tanah demi segenggam beras ditangannya.
Semoga setelah dewasa nanti kami tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang koruptor atau seorang pencuri hak orang lain. Kini keadaan kami telah mulai meranjak kepada pematangan biologis. Mulai dari badan, pemikiran dan mungkin roh. Kami mulai melakukan epaluasi diri untuk menjadi manusia yang sempurna terutama manusia yang tidak membunuh tuhannya sendiri, manusia yang tetap memiliki mata, telinga dan hati yang masih aktif.
Kini kami mulai melakukan tindakan-tindakan yang memang sulit pada awalnya akan tetapi keistiqomahan telah menjadikan kami lebih dari yang kemarin bahkan dulu. Kami mulai melakukan suatu aktifitas kepercayaan dalam mencari uang, seperti bisnis jual barang, jual jasa dan lainnya.
Semua ini dilakukan dengan berbagai cara yang lama., yang dilakukan dengan berbagai cara yang memang sangat sulit. Akan tetapi tahapan-demi tahapan kami lewati dengan penuh keoptimisan diri. Pernah pada suatu hari kami menjual barang-barang kepada orang lain dengan cara cuma-Cuma, ditambah transaksinya tidak dilakukan dengan kes melainkan dengan kredit. Akan tetapi kami merasa yakin akan kejujuran si pembeli karena memang dia adalah teman yang rumahnya tidak jauh dari ku. Tetapi setelah beberapa lama saya muali sadar ternyata, kepercayaan tersebut dia sia-siakan dengan suatu perbuatan yang nihil dan menjengkelkan. Bahkan sampai sekarang dia belum membayar berang beliannya tersebut.
Hal diatas menjadiakan sebuah pengalaman yang sangat berharga, dan saya tidak mau hal tersebut terjadi pada diri saya kembali. Walau memang menurut saya uang bukan segalanya. Akan tetapi memang uang merupakan hal yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Karena sesuai dengan fungsinya bahwa uang sebagai alat tukar yang memang diadakan sebagai hal yang sangat praktis. Walau ada wacna aka nada yang mengaganti uang dengan hal yang lebih peraktis bahkan sangat praktis, akan tetapi kepastian tersebut belum nyata dan memang tidak mungkin jauh berbeda dengan uang karena fungsinya pun tetap sama sebagai alat tukar.




[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Hedonisme
[2] Lorens Bagus. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hlm. 593-600
[3] N. Drijarkara. 1966. Pertjikan Filsafat. Jakarta: PT. Pembangunan Djakarta. Hal. 57-59