Dulu kami hidup dalam keadaan berkecukupan, serba dipenuhi oleh segala hal yang kami inginkan, walau memang disadari hal tersebut kurang berharga atau tidak terlalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan kami dipenuhi oleh barang-barang yang sangat unik mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang termurah sampai yang termahal menurut kami. Keinginan kami pun selalu dipenuhi oleh hasrat ketidak puasan pada diri kami, entah mulai dari keperluansekunder, tersier apa lagi primer tentu itu pasti dibutuhkan oleh kami, bahkan di tumpuk oleh kami.
Jika dikaji menurut pengetahuan saya, pada waktu itu tepatnya kami tidak jauh berbeda dengan orang-orang hedonis. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham inilah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan, bahwa:
"Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati".[1]
atau setidaknya seperti orang materialis, Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme.[2]
Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti : roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.[3]
Akan tetapi kami tidak terlalu seperti yang paparkan diatas, pemaparan diatas hanya sebagian definisi yang di kutif dari beberapa sumber, kami hanya hampir menyeripau tetapi sangat jauh. Penyamaan yang kami maksud hanyalah sebatas kepada sifat yang normal, normal yang dimaksud hanya perilaku yang didasari tanpa merujuk kepada keyakinan sepertai apa yang dipaparkan tadi. Seperti sifat penganut hedonis atau meterialis yang ortodok.
Kesadaran kami mulai muncul ketika keterpurukan mulai melanda kehidupan kami. Pada waktu itu keterasingan terasa ketika salah seorang keluarga kami terjatuh dan meninggalkan ala mini untuk selamanya. Hal ini membuat segala yan ada pada diri kami, mulai dari kebahagiaan, kekayaan, kecukupan dan segalanya menghilang untuk beberapa saat atau mungkin untuk selamanya, tetapi semoga hal ini tidak terjadi.
Setelah beberapa waktu kami menjalani hidup, keadaan pun mulai berubah, kekuatan kami mulai terusuk, kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan yang diberikan dari materi pertama yang sangant penting, yaitu uang. Setelah kami mengalami keterjatuhan kami mulai merasakan akan suatu kebutuhan yang sangat penting sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan suatu langkah yan memang sangat sulit untuk dilalui. Kesulitannya bukan karena kami tidak bias, akan tetapi karena tidak pernahnya kami melakukan hal ini (mencari uang). Kami mulai melakukanya dengan berbagai cara, mulai dari berjualan, berbisnis, kuli dan lainnya.
Rasa yang aneh mulai terasa dalam benak diri kami, mengapa kami butuh dengan uang, dan mengapa hidup harus dengan uang. Akhirnya rasa ini membawa kami kepada pengetahuan tentang segalahal tentang ini. Ternyata uuang tidak serta merta ada dengan sendirinya melainkan melalui sejarah panjang yang bertahap tahap. Awal mula sebelum adanya uang oaring orang menggunakan system barter. Apa itu system barter?
Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, maka mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Itu lah yang disebut dengan system 'barter'.
Namun kemudian, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah, kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
Untuk mengatasi persoalan diatas, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah, sebagai berikut:
a. benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted)
b. benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik)
c. benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah.
d. Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain sebagai berikut:
a. karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang sulit untuk diberikan
b. penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.
Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas
Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan 'kertas-bukti' tersebut sebagai alat tukar.
Setelah kami dapat memahami sejarah uang itu sendiri akhirnya, rasa penasaran pun sedikit demi sedikit dapat terpenuhi. Akan tetapi usaha demi usaha tetap kami lakukan untuk mendapatkan uang itu, hal ini dilakukan karenan memang jaman sudah sangat mata duitan, karena hamir segala aktivitas di dunia ini dipenuhi dengan uang, uang tidak saja dipergunakan untuk membeli barang-barang perimer yang memang kebutuhannya sangant dibutuhkan, akan tetapin untuk membuang barang bekas primer itu sendiri pun memerlukan uang, seperti: kencing mandi dan lainnya. Atau untuk jelasnya untuk makan (kegiatran memasukan makanan kedalam organ guna memberikan energi bagi tubuh kita) ternyata mengeluarkannya pun memerlukan makan, walau untuk membayar tempatnya.
Hal diatas mungkin terjadi karena memang manusia memerlukan uang untuk makan, memang tidak ada kegiatan atau aktivitas lain yang dapat dilakukan selain melakukan hal ini (jaga toilet umum) . atau memang suatu kegiatan rutin yang memang sudah menjadi bisnis mereka. Mungkin juga mereka sudah nebdirikan banyak cabang di kota-kota lain.
Kini uang sudah menjadi sumberkehidupan, atau bahkan sudah menjadi nyawa bagi sebagian orang. Tidak jarang orang berpikiran, bahwa mereka tidak akan dapat hidup tanpa uang. Mereka telah menjadikan uang sebagai sumber pokok kehidupan. Padahal hal ini sudah melencenga jauh dari inti terciptanya uang ini.
Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.
a. Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.
Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
Uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.
b. Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.
Dewasa ini para manusia telah menjadikan uang sebagai tuhan mereka sendiri, mungki benar kata Nietzsche bahwa tuhan telah mati, kematiannya mungkin karena manusia telah melupakannya, sehingga tuhan menangis dan akhirnya meninggalkan manuisia dan akhirnya mati.
Tuhan yang dimaksud disini melainkan suatu perbudakan, yang mana tuhan sebagai majikan dan manusia sebagai budaknya, atau dapat disimpulkan bahwa manusia telah menjadikan dirimereka sebagi budak uang itu sendiri.
Sebagaimana pemaparan di bawah ini:
"Tuhan sudah mati" (bahasa Jerman: "Gott ist tot") adalah sebuah ungkapan yang banyak dikutip dari Friedrich Nietzsche. Ungkapan ini pertama kali muncul dalam Die fröhliche Wissenschaft, seksi 108 (New Struggles), dalam seksi 125 (The Madman), dan untuk ketiga kalinya dalam seksi 343 (The Meaning of our Cheerfulness). Juga muncul dalam buku klasik Nietzsche Also sprach Zarathustra, yang paling bertanggung jawab dalam memopulerkan ungkapan ini. Gagasan ini dinyatakan oleh 'The Madman' sebagai berikut:
“ Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?”
Begitulah ungkapin nitzsche dalam berbagai karyanya. Yang mengatakan tuhan telah mati. Hal ini telah mengibaratkan akan suatu pemikiran yang amat luar biasa dari kebodohan manusia, yang rela untuk menukar tuhannya dengan benda-benda mati seperti uang, Hp, makanan dan lainnya.
Kiota ambil suatu contoh yang terjadi di negerikita, yaitu masalah korupsi. Definisi korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Mungkin mereka ini tidak malu atau memang tidak memiliki kemaluan, sehingga mereka berani untuk menyianyiakan amanat mereka. Amanat yang dimaksud merupakan suatu kepercayaan yang diberikan para masyarakat kepada mereka. Bahkan masyarakat berani dan mau untuk menggaji mereka dengan uang mereka sendiri yang dihasilkan dengan usaha mereka sendiri. Tetapi mengapa mereka masih melakukan hal tersebut.
Sebenarnya rasa ketidak puasan tersebut merupakan kewajaran yang memang dimiliki oleh semua manuia atau sebaliknya. Mereka tidak wajar atau mereka sakit sehingga buta, tuli dan busuk hatinya, sehingga tidak dapat melihat mendengar dan merasakan jeritan orang-orang yang sedang mengeruk tanah demi segenggam beras ditangannya.
Semoga setelah dewasa nanti kami tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang koruptor atau seorang pencuri hak orang lain. Kini keadaan kami telah mulai meranjak kepada pematangan biologis. Mulai dari badan, pemikiran dan mungkin roh. Kami mulai melakukan epaluasi diri untuk menjadi manusia yang sempurna terutama manusia yang tidak membunuh tuhannya sendiri, manusia yang tetap memiliki mata, telinga dan hati yang masih aktif.
Kini kami mulai melakukan tindakan-tindakan yang memang sulit pada awalnya akan tetapi keistiqomahan telah menjadikan kami lebih dari yang kemarin bahkan dulu. Kami mulai melakukan suatu aktifitas kepercayaan dalam mencari uang, seperti bisnis jual barang, jual jasa dan lainnya.
Semua ini dilakukan dengan berbagai cara yang lama., yang dilakukan dengan berbagai cara yang memang sangat sulit. Akan tetapi tahapan-demi tahapan kami lewati dengan penuh keoptimisan diri. Pernah pada suatu hari kami menjual barang-barang kepada orang lain dengan cara cuma-Cuma, ditambah transaksinya tidak dilakukan dengan kes melainkan dengan kredit. Akan tetapi kami merasa yakin akan kejujuran si pembeli karena memang dia adalah teman yang rumahnya tidak jauh dari ku. Tetapi setelah beberapa lama saya muali sadar ternyata, kepercayaan tersebut dia sia-siakan dengan suatu perbuatan yang nihil dan menjengkelkan. Bahkan sampai sekarang dia belum membayar berang beliannya tersebut.
Hal diatas menjadiakan sebuah pengalaman yang sangat berharga, dan saya tidak mau hal tersebut terjadi pada diri saya kembali. Walau memang menurut saya uang bukan segalanya. Akan tetapi memang uang merupakan hal yang dibutuhkan dalam kehidupan ini. Karena sesuai dengan fungsinya bahwa uang sebagai alat tukar yang memang diadakan sebagai hal yang sangat praktis. Walau ada wacna aka nada yang mengaganti uang dengan hal yang lebih peraktis bahkan sangat praktis, akan tetapi kepastian tersebut belum nyata dan memang tidak mungkin jauh berbeda dengan uang karena fungsinya pun tetap sama sebagai alat tukar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar